God Still Alive...!
“Why do you still believe GOD was created the
earth and HE is still watching over us?”
Demikian pertanyaan pedas dan tajam seorang kawan saya yang bagi dirinya tuhan
adalah ‘work’ alias kerja. Anda tidak bekerja maka Anda tidak bertuhan. Ia
seorang workaholic yang jam kerjanya
mulai dari 7 pagi sampai 10 malam. Berhasil dalam dunia bisnis sih. Punya banyak uang, dan disenangi
banyak wanita. Saya hanya tersenyum dan menjawab pendek, “Without HIM you’ll never be as great as you are now.” Ia tertawa
terbahak-bahak dan bilang, “Once again,
you are freaking insane, man!” Sekali lagi, kamu gila bener, semprotnya.
Bagi saya itulah hidup. Pilihan untuk meyakini bahwa ada creator agung yang menciptakan kita ataupun tidak meyakininya sama
sekali terpulang ke setiap kita. Dan saya cukup sadar for what I stand for.
Manusia (kita semua) adalah
mahluk berpikir. Kita diberikan otak, akal, pikiran, dan pengetahuan. Tapi juga
serempak kita diberikan hati, perasaan, dan ‘willingness to believe’.
Kemampuan dan kehendak untuk percaya dan mempercayai. Akal memaksa kita
berpikir secara logis. Tapi logika kadang mengukung kita di balik tempurung
kekerdilan berpikir untuk tidak mau dan tidak dapat menerima sesuatu yang di
luar akal. Tak terjangkau pikiran. Sesuatu yang tidak logis, atau katakanlah
yang supranatural. Nah, hati dan perasaan yang kita miliki tak jarang mementung
keegoan kita untuk akhirnya menjadi mampu dan mau menerima yang supranatural
tersebut. Kemampuan untuk memahami, merasakan, dan mengakui adanya mujizat. Kesediaan
untuk meyakini adanya ‘sosok agung’ yang kita sebut dan panggil sebagai GOD.
Tuhan semesta alam. Tuhan Sang Pencipta.
Semakin pintar dan cerdas
seseorang bisa saja akan semakin logis cara dia berpikir. Tapi kelogisan berpikir
tidak serta merta menunjukkan kebenaran cara berpikirnya. Mari kita tengok
kecerdasan dan kepintaran Stephen Hawking, penulis buku ‘A brief history of time’ (sejarah sang kala). Seluruh tubuhnya
lumpuh, yang tersisa dan masih bekerja aktif adalah sebagian kecil dari
otaknya. Tapi saking pintarnya ia dijuluki sebagai juru bicara alam semesta.
Pakar matematika dan ilmu-ilmu fisika (khususnya teori kuantum) ini bahkan
disetarakan dengan Albert Enstein. Yang berfungsi dalam diri Hawking hanyalah
otaknya.