Welcome!

YOU HAVE COME TO THE RIGHT PLACE!

THIS SITE IS FOR THOSE LOOKING MOTIVATION, IDEAS, TIPS, AND SECRETS.

MY Goal: I will reveal creative ideas, tips and secrets on how you can successfully make your life be better. Love, happiness, and sharing is a must! I will show you how to calculate your Return On Investment (ROI) on Love, Happiness, and Felling. :) Finding out your ROI, will help you decide if the love you are about to spend is a worthwhile investment and makes you more happy than ever. This is the place for you to at least reveals the extra worth ideas, tips, or secrets you needed the most.

http://www.bisnisonlinejaya.com

We must do what we ought to do!

Check us out...
You'll find what you're looking for soon enough !

You'll find it here !


Wednesday, June 13, 2012

Perbedaan Anda Dengan Boss Anda


When you take a long time, you're slow. When your boss takes a long time, he's thorough.

When you don't do it, you're lazy. When your boss doesn't do it, he's too busy.

When you make a mistake, you're an idiot. When your boss makes a mistake, he's only human.

When doing something without being told, you're overstepping your authority. When your boss does the same thing, that's initiative.

When you take a stand, you're being pig-headed. When your boss does it, he's being firm.

When you overlooked a rule of etiquette, you're being rude. When your boss skips a few rules, he's being original.

When you're out of the office, you're wandering around. When your boss is out of the office, he's on business.

When you're on a day off sick, you're always sick. When your boss has a day off sick, he must be very ill.

When you apply for leave, you must be going for an interview. When your boss applies for leave, it's because he's overworked.

Saturday, June 9, 2012



Salah satu buku yang banyak dibaca orang adalah sebuah buku yang berjudul How to Cope With Difficult People (Bagaimana Mengatasi Orang yang Sulit).
Saya tidak heran kalau buku semacam itu laris. Apa sebab? Sebab dalam hidup ini, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang sulit dan kita tidak punya pilihan lain. Malah kadang-kadang harus bekerja sama atau tinggal serumah dengan orang seperti itu. Di kantor juga kita sering bekerja dengan orang yang sulit.

Diantara banya cirri khas orang sulit, satu diantaranya adalah sulit diajak bergau dengan enak. Orangnya terlalu serius. Tidak bisa diajak guyon. Tidak punya rasa humor. Kalau diajak guyon, dianggap serius, yang terjadi adalah salah paham.

Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang tidak bisa diajak guyon? Saya pernah! Saya punya teman sekolah di SMA yang sudah kebih dari 20 tahun tidak ketemu. Begitu ketemu, tentu saya amat gembira. Dan, secara spontan saya bertanya “Hey, apa kabar? 20 tahun kemana aja lu? Kok sekarang gendut. Hamil berapa bulan?” tanpa saya duga, dia ternyata marah. Menyebalkan memang bergaul dengan orang sulit seperti itu.

Orang yang sulit adalah juga orang yang pesimis, orang yang cara berpikirnya negatif---istilah bahasa Inggrisnya negative thinking. Kalau melihat sesuatu, yang dilihat Cuma segi jeleknya, sisi gelapnya. Ada orang yang baru pulang jalan-jalan dari Eropa. Ia ditanya “Bagaimana perjalannya? Menyenangkan bukan?” Apa jawabnya “capek!” Yang berkesan Cuma capeknya. Ada orang yang dapat promosi, naik pangkat. Orang mengucapkan, “Wah, selamat ya Pak, naik pangkat!” Apa jawabnya? “Selamat apa? Dikira naik pangkat itu enak apa? Malah tambah pusing!”. Yang dilihat dari sisi negatifnya. Ibaratnya gelas setengah penuh, dibilang setengah kosong.

Di dalam hidup kita, kadang-kadang kita harus bertemu dengan orang-orang yang sulit. Karena itu pulalah buku How To Cope With Difficult People itu laris. Tetapi tanpa membaca buku itupun kita sebenarnya harus bisa menghadapai orang-orang yang sulit tersebut.

Pertama, orang sulit yang kita temui jangan langsung ditendang dan disingkirkan.
Kedua, orang-orang yang sulit itu justru harus kita rangkul. Kita harus memperlakukan orang sesuai karakternya masing-masing. Ada yang harus diperlakukan dengan lembut, tetapi ada juga yang harus dierlakukan dengan keras.
Ketiga, ini juga sangat penting! Bagaimana melembutkan hati orang yang sulit? Dengan kesabaran. Tapi juga jauh lebih penting lagi adalah, dengan bukti.

Anda menghadapi orang yang keras hati, sangat sulit di ajak kompromi. Sabar. Dan beri bukti melalui diri anda sendiri.
Kita tahu sekarang ini, televisi jauh lebih popular dari radio. Mengapa? Karena melalui televisi kita melihat, sedang melalui radio kita Cuma mendengar. Apa yang kita lihat itu lebih berkesan dari pada apa yang hanya kita dengar.

Kenapa Harus Hidup Penuh Kebencian?

Dalam menjalani hidup pun ketika sementara berinteraksi dengan teman kerja, keluarga jauh, keluarga dekat, atau dengan siapa saja, dengan sendirinya akan terbentuk suatu jalinan yang sarat tuntutan. Artinya begini, kawan Anda tentu mengharapkan yang terbaik dari sikap dan tindak tanduk serta tindak laku Anda sebagai orang yang dekat dengan mereka. Begitu pula sebaliknya, Anda sangat mengharapkan yang terbaik juga akan datang dari mereka.

Nah, ketika yang mereka harapkan tak sesuai harapan, sering muncullah kekecewaan demi kekecewaan, “Ah, kok kualitasnya hanya segitunya sih!” Inilah yang saya bilang mengandung paradoks (dua hal yang bertentangan) dan kausalitas (dua hal yang saling menyebabkan). Bukankah satu keluarga, katakanlah kita penghuni rumah ini adalah “orang-orang terdekat” kita pada saat sedang mengompasiana? Kemudian apa yang terjadi?, tentu kita lalu akan saling mengandalkan satu dengan yang lain, kita mempunyai ekspektasi (harapan yang mengandung unsur tuntutan) yang tinggi antara satu dengan yang lain. Jika ekspektasi berbeda dengan kenyataan yang kita temui, makalah muncullah kekecewaan tersebut. Lalu kemudian kita menjadi kesal, kekesalan kemudian meruncing menjadi suka mengecam. Kecaman akhirnya menimbulkan keributan, dan akibatnya muncullah pertengkaran. Di sinilah letak kausalitasnya: Kita benci karena kita mencintai. Itu sebabnya kata “benci” seolah-olah merupakan singkatan dari “benar-benar cinta”.

Kalau ternyata pertentangan, saling serang, saling hujat lewat tindakan apapun, bahkan tak jarang cacian dan makian yang lebih menguasai emosi kita. Wlahualam deh apa yang akan terjadi selanjutnya. Kalau semuanya terus terjadi ke arah yang negative maka pasti ada yang salah. Ada yang keliru di situ. Berarti ada kemungkinan lain yang tidak bisa tidak pastilah berujung kepada sesuatu yang tidak baik. Iri, dengki, dendam, rasa tidak suka, keinginan untuk menjatuhkan, tidak senang melihat “sukses” orang lain, dan lain sebagainya. Kalau demikian, alamatnya sudah jelas: Perseteruan berkepanjangan. Pertikaian tak berujung! Tidak ada yang mau mengalah dan mengaku salah. Tidak ada cinta, hanya benci melulu. Rumah yang sehat akan menjelma menjadi rumah yang sakit-sakitan, sudah barang tentu penghuni yang lain akan mudah terjangkit sakit juga. Akhirnya yang sakit membantu yang sakit untuk menyerang yang sakit. Lalu kapan sembuhnya?

Mari kita berbenah menjadi lebih baik dan lebih baik dan lebih baik lagi sebagai penghuni rumah sehat yang bertanggungjawab, dan yang mampu hidup rukun di bawah satu atap. Kalau pun ada riak-riak pertentangan dan ketidaksamaan pendapat, jangan landasi itu dengan benci tapi landaskan itu dengan cinta. Sebab benci melahirkan pertikaian tapi cinta menutupi banyak kekurangan.