Salah satu buku yang banyak dibaca orang adalah sebuah buku
yang berjudul How to Cope With Difficult People (Bagaimana Mengatasi Orang
yang Sulit).
Saya tidak heran kalau buku semacam itu laris. Apa sebab?
Sebab dalam hidup ini, tidak jarang kita bertemu dengan orang-orang yang sulit
dan kita tidak punya pilihan lain. Malah kadang-kadang harus bekerja sama atau
tinggal serumah dengan orang seperti itu. Di kantor juga kita sering bekerja
dengan orang yang sulit.
Diantara banya cirri khas orang sulit, satu diantaranya
adalah sulit diajak bergau dengan enak. Orangnya terlalu serius. Tidak bisa
diajak guyon. Tidak punya rasa humor. Kalau diajak guyon, dianggap serius, yang
terjadi adalah salah paham.
Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang tidak bisa diajak
guyon? Saya pernah! Saya punya teman sekolah di SMA yang sudah kebih dari 20
tahun tidak ketemu. Begitu ketemu, tentu saya amat gembira. Dan, secara spontan
saya bertanya “Hey, apa kabar? 20 tahun kemana aja lu? Kok sekarang gendut.
Hamil berapa bulan?” tanpa saya duga, dia ternyata marah. Menyebalkan memang
bergaul dengan orang sulit seperti itu.
Orang yang sulit adalah juga orang yang pesimis, orang yang
cara berpikirnya negatif---istilah bahasa Inggrisnya negative thinking. Kalau melihat sesuatu, yang dilihat Cuma segi
jeleknya, sisi gelapnya. Ada
orang yang baru pulang jalan-jalan dari Eropa. Ia ditanya “Bagaimana
perjalannya? Menyenangkan bukan?” Apa jawabnya “capek!” Yang berkesan Cuma
capeknya. Ada
orang yang dapat promosi, naik pangkat. Orang mengucapkan, “Wah, selamat ya
Pak, naik pangkat!” Apa jawabnya? “Selamat apa? Dikira naik pangkat itu enak
apa? Malah tambah pusing!”. Yang dilihat dari sisi negatifnya. Ibaratnya gelas
setengah penuh, dibilang setengah kosong.
Di dalam hidup kita, kadang-kadang kita harus bertemu dengan
orang-orang yang sulit. Karena itu pulalah buku How To Cope With Difficult
People itu laris. Tetapi tanpa membaca buku itupun kita sebenarnya harus bisa
menghadapai orang-orang yang sulit tersebut.
Pertama, orang sulit yang kita temui jangan langsung
ditendang dan disingkirkan.
Kedua, orang-orang yang sulit itu justru harus kita rangkul.
Kita harus memperlakukan orang sesuai karakternya masing-masing. Ada yang harus
diperlakukan dengan lembut, tetapi ada juga yang harus dierlakukan dengan
keras.
Ketiga, ini juga sangat penting! Bagaimana melembutkan hati
orang yang sulit? Dengan kesabaran. Tapi juga jauh lebih penting lagi adalah,
dengan bukti.
Anda menghadapi orang yang keras hati, sangat sulit di ajak
kompromi. Sabar. Dan beri bukti melalui diri anda sendiri.
Kita tahu sekarang ini, televisi jauh lebih popular dari
radio. Mengapa? Karena melalui televisi kita melihat, sedang melalui radio kita
Cuma mendengar. Apa yang kita lihat itu lebih berkesan dari pada apa yang hanya
kita dengar.
No comments:
Post a Comment